BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

Permasalahan di Indonesia hingga saat ini semakin kompleks. Hal ini terlihat ketika beberapa waktu yang lalu marak dibahas mengenai kasus TKI, busung lapar, kemiskinan, pengangguran bahkan permasalahan yang berkonotasi politik seperti halnya hasil pemilu yang dianggap tidak valid dan penuh kecurangan. Berbagai kalangan masyarakat maupun elit pemerintah memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam menyikapi persoalan ini. Solusi yang dianggap sebagai jalan keluar untuk mengatasi persoalan ini pun bermacam-macam. Kekuatan kekuasaan serta kekuatan politik menjadi dominator dalam setiap keputusan yang tertuang dalam kebijakan-kebijakan yang diwujudkan sebagai langkah dalam menyelesaikan persoalan berskala nasional ini.

Namun bila kita melihat fenomena tersebut dari sudut pandang demografi, terdapat titik-titik yang dapat menjadi acuan untuk menemukan sumber permasalahan. Perbedaan keadaan tanah dan lingkungan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat bermigrasi ke tempat yang memiliki potensi ekonomi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Keadaan tanah yang kurang baik menjadi salah satu penyebab minimnya peluang peningkatan ekonomi yang memicu menyebarnya penduduk dari daerah satu ke daerah lain. Dari persoalan lingkungan dapat berimplikasi pada persoalan demografi yang mengakibatkan ketidakmerataan penduduk antar daerah yang berdampak pula pada perbedaan kepadatan penduduk yang pada akhirnya juga akan berakibat pada masalah pangan. Dari satu masalah menimbulkan permasalahan yang lain.

Oleh karena itu, berbagai pihak yang berkepentingan dengan proses pembangunan perlu melihat persoalan-persoalan di atas dari sudut pandang demografis. Karena obyek dari pembangunan sendiri adalah penduduk yang berdiam dalam suatu negara. Terkait dengan kependudukan, perhitungan kependudukan melalui sensus merupakan hal yang cukup penting, baik sebagai data akurat kependudukan maupun sebagai data pendukung untuk menentukan kebijakan pembangunan dari segi politik, sosial maupun ekonomi. Terkait dengan politik, data kependudukan merupakan modal yang cukup penting untuk melaksanakan pemilihan umum. Dengan adanya data penduduk yang memenuhi standar untuk mengikuti pemilihan umum dapat dijadikan acuan perhitungan hasil pemilu yang valid atau sah. Dari sisi permasalahan pangan, realitas masyarakat yang kekurangan pangan tergambar dari adanya masalah busung lapar beberapa waktu lalu, hal ini menunjukkan bahwa persoalan pangan disebabkan oleh kondisi sumber daya lahan yang kurang produktif untuk memenuhi kegiatan pertanian. Banyaknya daerah yang memiliki lahan kurang potensial menyebabkan penduduk yang tinggal di daerah tersebut berpindah ke daerah lain yang memiliki lahan subur. Dengan semakin banyaknya penduduk yang melakukan migrasi ke daerah yang produktif akan menimbulkan permasalahan baru yakni ketidakmerataan penduduk antara daerah satu dengan daerah lainnya. Daerah yang produktif dan memiliki nilai ekonomis secara bertahap mengalami peningkatan jumlah penduduk, sementara penduduk di daerah yang kurang potensial akan kekurangan penduduk.

Negara Indonesia sebagai negara berkembang, tergolong sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Sumber daya manusia yang melimpah dapat menjadi aset negara yang cukup penting bila dimanfaatkan dengan baik dan terarah untuk kemajuan pembangunan nasional. Oleh karena itu, analisis mengenai kependudukan ini dapat digunakan untuk melihat realitas dalam masyarakat, baik kepadatan penduduk, persebaran penduduk, registrasi penduduk serta struktur penduduk.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarakan pemikiran diatas, kajian ini berupaya untuk mempelajari permasalahan yang muncul dari analisis kependudukan di Dramaga, Kabupaten Bogor. Secara khusus hal-hal yang akan dikaji yaitu:

1)      Bagaimana perkembangan penduduk di Desa Dramaga?

2)      Bagaimana persebaran dan kepadatan penduduk di Desa Dramaga?

3)      Bagaimana struktur penduduk di Desa Dramaga?

4)      Apakah terdapat bonus demografi di Desa Dramaga?

1.3. Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, adapun tujuan analisis kependudukan ini adalah:

1)         Mengetahui perkembangan penduduk yang terjadi di Desa Dramaga.

2)         Mengetahui persebaran dan kepadatan penduduk di Desa Dramaga.

3)         Mengetahui struktur penduduk di Desa Dramaga.

4)         Mengetahui terdapat atau tidaknya bonus demografi dan permasalahan yang terjadi di Desa Dramaga.

1.4 Manfaat

Melalui kajian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak yang nantinya memiliki kepentingan terhadap kajian demografi, baik bagi civitas akademika maupun masyarakat. Adapun manfaat yang diharapkan adalah:

1)         Dapat menjadi referensi bagi kajian yang akan melakukan pengamatan sejenis.

2)         Memberikan informasi dan pemahaman kepada pihak-pihak yang berkepentingan tentang kependudukan di Desa Dramaga.

3)         Menambah khasanah pengetahuan tentang kajian media siaran radio di zaman modern.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

Pengertian penduduk menurut Irma (2009)[1] adalah orang-orang yang berada di dalam suatu wilayah yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama lain secara terus menerus atau kontinu. Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati  wilayah geografi dan ruang tertentu. Penduduk suatu negara atau daerah  bisa didefinisikan menjadi dua:

  • Orang yang tinggal di daerah tersebut.
  • Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal  di situ.

Studi yang membahas mengenai penduduk yaitu ilmu kependudukan dan demografi. Ilmu kependudukan mempersoalkan hubungan-hubungan antara variabel demografi dan variabel dari sistem lain atau non-demografi (Hauser, 1959 dalan Rusli, 1995).[2] Menurut Malthus (1830) dalam Rusli (1995)[3] merumuskan dua postulat tentang kependudukan, yaitu:

  1. Bahwa pangan dibutuhkan untuk hidup manusia.
  2. Bahwa kebutuhan nafsu seksual antar jenis kelamin akan tetap sifatnya sepanjang masa.

Sedangkan demografi adalah suatu studi mengenai jumlah, distribusi teritorial, dan komposisi penduduk, peubahan-perubahan yang bertalian dengannya serta komponen yang menyebabkan perubahan yang bersangkutan yang dapat diidentifikasi sebagai natalitas, mortalitas, gerak penduduk teritorial, dan mobilitas sosial atau perubahan status (Rusli, 1995).[4] Selain pengertian demografi, disuatu wilayah pun dapat dianalisa mengenai bonus demografi yang berarti keuntungan ekonomis yang disebabkan penurunan proporsi penduduk muda yang mengurangi besarnya biaya investasi untuk pemenuhan kebutuhannya, sehingga sumberdaya dapat dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan (Adioetomo).[5]

Lahan merupakan sumberdaya yang dibutuhkan penduduk disuatu daerah. Menurut Bintarto (1977), lahan dapat diartikan sebagai suatu tempat atau daerah dimana penduduk berkumpul dan hidup bersama, dimana mereka dapat menggunakan lingkungan setempat untuk mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidupnya. Sedangkan menurut FAO yang dikutip dari Yunianto (1991) mengemukakan tentang pengertian lahan adalah suatu wilayah dipermukaan bumi yang mempunyai sifat-sifat agak tetap atau pengulangan sifat-sifat dari biosfer secara vertikal diatas maupun dibawah wilayah tersebut termasuk atmosfer, tanah geologi, geomorfologi, hidrologi, vegetasi, dan binatang yang merupakan hasil aktivitas manusia dimasa lampau maupun dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang. Menurut Manutu (1991) Fungsi lahan secara umum dapat dibagi dua, yaitu lahan yang berfungsi untuk kegiatan budidaya dan lindung.  Sedangkan menurut Arsyad (1989) mengemukakan bahwa penggunaan lahan adalah suatu bentuk intervensi manusia terhadap lahan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan kehidupan baik kebutuhan material maupun kebutuhan spiritual. Selain itu Arsyad (1989) juga mengemukakan pengelompokan tipe-tipe penggunaan lahan adalah sebagai berikut : (1) Perladangan, (2) Tanaman semusim campuran,tanah darat, tidak intensif, (3) Tanaman semusim campuran,tanah darat, intensif, (4) Sawah, (5) Perkebunan rakyat, (6) Perkebunan besar, (7) Hutan produksi, (8) Hutan alami, (9) Padang pengembalaan, (10) Hutan lindung, (11) Cagar alam (Anonim, 2010).[6]

Selain itu menurut Anwar (1980) berpendapat bahwa peenggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar yaitu: (1) Penggunaan lahan pertanian (2) Penggunaan lahan bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan kedalam jenis penggunaan berdasarkan atas penyediaan air dan bentuk pemanfatan diatas lahan tersebut, diantaranya: (1) Tegalan, (2) Sawah, (3) Perkebunan, (4) Padang Rumput, (5) Hutan produksi, (6) Hutan lindung, (7) Padang alang-alang. Sedangkan penggunaan bukan lahan pertanian dibedakan kedalam beberapa bagian: (1) Pemukiman (2) Industri, (3) Tempat rekreasi, (4) Pertambangan (Anonim, 2010).[7]

Sensus dalam faham modern mengandung makna perhitungan penduduk yang mencakup wilayah suatu Negara. (Barclay,1958 dalam Rusli,1995).[8] Sensus dilakukan dengan pencacahan langsung tiap orang atau rumah tangga. Dengan demikian suatu sensus penduduk merupakan suatu usaha besar yang memerlukan banyak biaya dan tenaga. Perhitungan penduduk dalam suatu sensus dapat dilakukan dengan system de jure atau de facto. Sistem de jure berarti mencacah penduduk menurut tempat tinggal tetap. Sedangkan dengan system de facto dilakukan dimana seseorang ditemukan pada saat sensus (Rusli, 1995)[9]. Sensus dilaksanakan sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun sekali yang meliputi:

  1. Sensus Penduduk, yang dilaksanakan pada tahun berakhiran angka 0 (nol);
  2. Sensus Pertanian, yang dilaksanakan pada tahun berakhiran angka 3 (tiga);
  3. Sensus Ekonomi, yang dilaksanakan pada tahun berakhiran angka 6 (enam).

Sensus penduduk pertama diadakan pada tahun 1961, kedua tahun 1971, ketiga tahun 1980, keempat 1990, kelima 2000 dan yang terakhir diadakan pada tahun 2010. Indonesia kini sedang mempersiapkan sensus penduduk modern yang keenam yang akan diselenggarakan pada tahun 2010. Sensus-sensus penduduk sebelumnya diselenggarakan pada tahun-tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000 (Data Sensus Penduduk, 2009)[10]

Menurut Sumanto dan Saladi (1984)[11] ada tiga sumber pokok data demografi

  1. Sensus penduduk
  2. Survai sampel demografi
  3. Sistem registrasi: registrasi vital (catatan peristiwa-peristiwa penting seperti kelahiran, kematian, dan perkawinan), registrasi penduduk, dan statistic migrasi internasional.

Survey sampel lebih murah karena hanya meliputi penduduk yang dipilih sebagai wakil penduduk. Namun demikian proses pemilihan ini dapat menimbulkan kesalahan sampel (sampling error) yang tidak akan terjadi jika seluruh penduduk dicacah. Dari suatu sampel dapat diperoleh keterangan-keterangan yang lebih terperinci dan berkualitas lebih baik daripada suatu sensus, karena lebih banyak waktu dan tenaga dapat dicurahkan untuk setiap wawancara.

Registrasi vital

Sensus dan survey menggambarkan keadaan penduduk pada suatu waktu tertentu. Statistik vital merupakan sumber utama untuk mengetahui perubahan penduduk karena statistik ini dikumpulkan secara kontinu dalam berbagai buku registrasi yang biasanya meliputi kematian, kelahiran dan perkawinan.

Buku Registrasi Penduduk

Dengan suatu sistem registrasi vital yang mencatat secara terpisah setiap peristiwa yang dialami seseorang, sulit diperoleh suatu gambaran lengkap tentang setiap individu. Jika buku registrasi penduduk mencatat setiap individu menurut semua peristiwa (kelahiran, kematian, perkawinan dan migrasi) yang dialami, gambaran tersebut menjadi lebih mudah. Menurut PBB, catatan penduduk yang baik pada saat ini seharusnya secara kontinu mencatat cirri-ciri setiap individu maupun keterangan tentang semua peristiwa penting yang dialaminya.

Menurut Rusli (1995)[12], secara umum ada 3 variabel demografi yang sering dikaji dalam studi ilmu kependudukan yaitu kelahiran, kematian dan migrasi atau gerak penduduk. Mengenai kelahiran, dikenal istilah ferilitas yaitu performan reproduksi aktual dari seorang wanita atau sekelompok individu, yang pada umumnya dikenakan pada seorang wanita atau sekelompok wanita. Menurut WHO dalam buku Pengantar Kependudukan yang diterjemahkan oleh Sumanto dan Saladi (1984)[13], lahir hidup didefinisikan sebagai berikut:

“Kelahiran hidup adalah peristiwa keluarnya atau terpisahnya suatu hasil konsepsi dari rahim ibunya, tanpa mempedulikan lama kehamilan, dan setelah itu bayi bernapas atau menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang lain seperti detak jantung, denyut nadi tali pusat, atau gerakan yang nyata disengaja, baik bila tali pusat dipotong atau masih melekat dengan plasenta; oleh karena itu suatu kematian harus didahului suatu kelahiran hidup.”

Ada beberapa ukuran-ukuran fertilitas dan reproduksi seperti yang dijelaskan oleh Said Rusli (1995)[14]dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Ilmu Kependudukan”, antara lain:

  1. Reit Kelahiran Kasar (CBR) yang digunakan untuk menghitung jumlah kelahiran per 1.000 penduduk per tahun. CBR dihitung dengan menggunakan rumus:

CBR = ∑ kelahiran tahun X x 1000

∑ penduduk tengah tahun X

  1. Rasio Anak Wanita (RAW) yang digunakan untuk menghitung berapa jumlah anak usia 0-4 tahun per 1.000 wanita usia reproduksi. RAW dihitung dengan menggunakan rumus:

RAW =   penduduk umur 0-4 tahun x 100

∑ penduduk perempuan umur reproduktif

Setelah peristiwa kelahiran hidup, setiap manusia pasti akan mengalami peristiwa demografi lainnya yaitu kematian. Dalam bukunya berjudul “Kepadatan Penduduk dan Peledakannya”, Said Rusli menyatakan bahwa, Kematian dapat terjadi pada masa bayi, anak balita, remaja, pemuda, dewasa, atau pada umur tua.[15] Lebih lanjut Rusli mengungkapkan tentang konsep Reit Kematian Kasar (CDR) dalam studi kematian.[16] CDR biasanya dinyatakan dalam jumlah kematian per 1.000 penduduk per tahun, yang dirumuskan:

CDR = ∑ kematian penduduk tahun X x 1000

∑ penduduk tengah tahun X

Diantara kelahiran dan kematian tersebut, manusia tak jarang melakukan gerak penduduk atau yang lebih dikenal dengan migrasi penduduk. Dalam “Analisa Kependudukan Berdasarkan Data Sensus Pendduduk 1980”, dinyatakan bahwa ada tiga dimensi pokok yang terkandung dalam pengertian migrasi yaitu dimensi manusia, dimensi letak demografis yang dilibatkan dan referensi waktu. Sementara itu migrasi sendiri merupakan perpindahan penduduk dari suatu propinsi ke propinsi lainnya untuk maksud menetap paling tidak selama enam bulan.[17]

Dalam studi ilmu kependudukan, terdapat pula beberapa ukuran dasar teknik analisa kependudukan yang penting untuk diketahui selain dari yang sudah disebutkan di atas, antara lain (seperti yang disadur dalam “Pengantar Ilmu Kependudukan” karya Said Rusli)[18]:

  1. Rasio Beban Tanggungan (RBT) yaitu ukuran yang digunakan untuk mengetahui jumlah tanggungan beban penduduk usia produktif, yang dinyatakan dengan rumus:

RBT = ∑ penduduk umur 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas x 100

∑ penduduk umur 15-64 tahun

  1. Rasio Jenis Kelamin (RJK) yaitu ukuran yang digunakan untuk mengetahui rasio dari jumlah laki-laki dan jumlah perempuan, yang dinyatakan dengan rumus:

RJKa-b = ∑ Laki-laki a-b tahun x 100

∑ perempuan a-b tahun

  1. Keterangan:

    Um : Umur median

    BUm : Batas bawah umur dari kelompok umur     yang terdapat umur median

    P : Jumlah penduduk

    f xm : Jumlah kumulatif penduduk hingga  kelomopok umur yang diperkirakan terdapat umur median

    f Um : jumlah penduduk kelompok umur yang  diperkirakan terdapat umur median

    k: interval kelompok umur

    Umur Median (UM) yang biasa dipakai sebagai salah satu petunjuk untuk melihat struktur umur penduduk suatu negara atau wilayah tertentu dalam suatu negara, yang dinyatakan dengan rumus:

UM = BUm + P/2 – fxm x k

fm

  1. Keterangan:

    Po: Jumlah penduduk pada awal periode waktu t

    Pt  : Jumlah penduduk pada akhir periode waktu t,

    R  :  Reit perkembanngan penduduk per tahun

    Reit perkembangan penduduk dengan persamaan eksponensial yang digunakan untuk memperkirakan perkembangan penduduk, yang dihitung dengan rumus:

Pt  = Po (1+r)t

2.2 Ketersediaan Data dan Sistem Registrasi

2.2.1 Ketersediaan Data

Desa Dramaga memiliki luas lahan sebesar 120,5 Ha, yang terdiri tanah sawah dan tanah kering. Luas tanah sawah sebesar 2 Ha dan luas tanah kering sebesar 118,5 Ha. Desa Dramaga dibatasi oleh beberapa desa, diantaranya:

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Babakan
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sinarsari
  3. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sinarsari
  4. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Margajaya

Kondisi geografi lain yang didapat oleh pengamat di Desa Dramaga yaitu:

  1. Ketinggian tanah dari permukaan laut                 :  500 m
  2. Banyaknya curah hujan                                        :  700 mm/hm
  3. Topografi (daratan rendah, tinggi pantai)            :  38 m
  4. Suhu udara rata-rata                                             :  240C
  5. Jarak dari Ibukota Negara                                    :  68 Km
  6. Jarak dari Ibukota Propinsi                                  :  128 Km
  7. Jarak dari Ibukota Kabupaten                              :  34 Km
  8. Jarak dari Pusat pemerintahan ke kecamatan       :  0.21 Km
  9. Jarak dari Kantor Kecamatan                              :  200 Km

Sesuai dengan uraian jumlah penduduk, terdapat pula jumlah kepala keluarga di Desa Dramaga sebanyak 2862 jiwa, yang terdiri dari 2.157 laki-laki dan 705 perempuan. Adapun klasifikasi penduduk Desa Dramaga berdasarkan jenis kelamin per golongan umur mereka pada bulan April 2010, yaitu:

Tabel 1. Penduduk Desa Dramaga Berdasarkan Jenis Kelamin per Golongan Umur Pada Bulan April 2010

Umur (tahun) Laki-laki Perempuan Jumlah
0-5 799 561 1.360
6-10 511 612 1.123
11-15 817 671 1.488
16-20 871 682 1.553
21-25 652 589 1.241
26-30 690 635 1.325
31-35 452 593 1.045
36-40 336 326 662
41-45 207 199 406
46-50 132 175 307
51-55 129 86 215
56-60 58 57 115
61-65 65 64 129
66-70 113 59 172
Jumlah 5.832 5.309 11.141

Sumber : Diolah dari lampiran data laporan Kantor Kepala Desa Dramaga Bulan April 2010

Data tersebut, dapat diolah menjadi gambaran struktur piramida di Desa Dramaga Bulan April Tahun 2010, yaitu:

Gambar 1. Struktur Piramida Penduduk Desa Dramaga Tahun 2010

Tabel 2. Penduduk Desa Dramaga Menurut Aspek Demografi  Pada Bulan April 2010, yaitu:

No Aspek Demografi Laki-Laki Perempuan Jumlah
1. Kelahiran 10 14 24
2. Kematian 23 12 35
3. Migrasi 46 35 81
Jumlah 79 61 140

Sumber : Diolah dari lampiran data laporan Kantor Kepala Desa Dramaga Bulan April 2010

Data mengenai aspek demografi tersebut, dapat digambarkan melalui diagram batang, sebagai berikut:

:

Gambar 2. Diagram Data Persebaran Penduduk Desa Dramaga Berdasarkan Aspek Demografi Tahun 2010

Tabel 3. Penduduk Desa Dramaga Menurut Agama  Pada Bulan April 2010, yaitu:

No. Agama Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Islam 5.813 5.285 11.098
32. Protestan 2 3 5
3. Katholik 16 20 36
4. Hindu 0 0 0
5. Budha 1 1 2
Jumlah 5.832 5.309 11.141

Sumber : Diolah dari lampiran data laporan Kantor Kepala Desa Dramaga Bulan April 2010

Sesuai dengan data tersebut, dapat digambarkan persebaran penduduk Desa Dramaga berdasarkan agama pada tahun 2010 melalui diagram batang, sebagai berikut:

Gambar 3. Diagram Persebaran Penduduk Desa Dramaga Berdasarkan

Agama Tahun 2010

Sedangkan data penduduk Desa Dramaga menurut mata pencahariannya, yaitu:

Tabel 4. Penduduk Desa Dramaga Menurut Mata Pencahariannya Bulan April 2010

No. Mata Pencaharian Jiwa
1. Pegawai Desa 10
2. PNS 126
3. Bidan 2
4. PegawaiSwasta/Pedagang 826
5. Pegawai BUMN 16
6. Pensiunan 42

Sumber : Laporan Kantor Kepala Desa Bulan April 2010

Berdasarkan data tersebut, persebaran mata pencaharian penduduk Desa Dramaga dapat digambarkan melalui grafik dibawah ini:

Gambar 4. Grafik Persebaran Mata Pencaharian Penduduk Desa Dramaga Tahun 2010

Tabel 5. Luas Desa Dramaga Menurut Penggunaan Lahannya

No. Penggunaan Lahan Luas (Ha)
1. Bangunan perkantoran 0.4
2. Sekolah 0.2
3. Pasar 0.11
5. Jalan 3.2
6. Tempat Ibadah 0.2
7. Permukiman umum 116.39
Total 120.5

Sumber : Diolah dari lampiran data laporan Kantor Kepala Desa Dramaga Bulan April 2010

Selain data penduduk berdasarkan karakteristik yang telah diuraikan, Desa Dramaga juga memiliki masalah kesehatan yang disertai penyebabnya, diantaranya:

Tabel 6. Masalah Kesehatan di Desa Dramaga Tahun 2010

No. Masalah  Kesehatan Penyebab
1. Masih banyak pertolongan persalinan oleh Paraji -          Rendahnya Sosial Ekonomi Masyarakat

-          Kurangnya pengetahuan Ibu-ibu & Keluarga tentang pentingnya pertolongan persalinan ditolong oleh Tenaga Kesehatan

2. Diare -          Lingkungan yang tidak bersih

-          Buang sampah sembarangan

-          Tidak mencuci tangan sebelum makan

-          Buang air di sembarang tempat, tidak di jamban

3. Demam Berdarah dan

Cikungunya

-          Masyarakat tidak aktif menjalankan 3 M

-          Banyak di Rumah Tangga baju 2 bergelantungan dalam waktu yang lama.

-          Pengelolaan pembuangan sampah yang kurang baik

-          “ Jum’at Bersih “  sudah jarang dilaksanakan

4. Filriasis / Kaki Gajah -          Lingkungan yang tidak bersih

-          Solokan yang tersumbat oleh sampah sehingga air tidak mengalir

-          Sistem pembuangan air limbah yang kurang baik

5.

.

ISPA / Pneumonia & TBC -          Fentilasi rumah yang kurang baik

-          Pasien TBC malas berobat ke PUSKESMAS sehingga menularkan kepada anggota keluarga yang lain

-          Kurang menjaga kebersihan rumah

-          Makanan yang tidak bergizi

Sumber : Laporan Kantor Kepala Desa Dramaga Bulan April 2010

Nb: Data tahun 1988, 2000, dan 2008 terdapat dilampiran.

2.2.2 Sistem Registrasi

Pada hari Senin, 24 Mei 2010, kelompok kami mewawancarai Kepala Desa di Desa Dramaga. Dari hasil wawancara tersebut, kami mengetahui data kependudukan berdasarkan  golongan umur dengan jenis kelamin, jumlah kelahiran, jumlah kematian, jumlah migrasi, agama, mata pencaharian, penggunaan lahan, dan masalah kesehatan. Dari hasil wawancara, kami mengetahui bahwa tiap anggota keluarga yang mengalami kejadian-kejadian demografi ada yang melapor dan ada juga yang tidak.

Di Desa Dramaga tidak terdapat petugas khusus yang mendatangi rumah-rumah penduduk untuk mencatat kejadian-kejadian demografi. Kejadian demografi dicatat apabila penduduk setempat melaporkan kejadian demografi itu kepada aparat pemerintah desa. Pencatatan kejadian demografi Desa Dramaga dilakukan oleh sekretaris desa di kantor Kepala Desa.

Peran penduduk dan aparat kelurahan seperti RT dan RW cukup membantu dalam penyelenggaraan registrasi penduduk, contohnya ketika kesadaran dari penduduk yang kurang untuk melakukan registrasi vital (kelahiran), peran ketua RT adalah menyadarkan warganya untuk melaporkan bayi yang telah mereka lahirkan dan membuat akte kelahiran, agar mereka mendapatkan asuransi kesehatan bagi bayi yang baru dilahirkan. Desa Dramaga memberi kebijakan bahwa setiap penduduk yang ingin membuat asuransi kesehatan harus memiliki surat pengantar dari RT/RW tempat mereka tinggal. Hal ini dilakukan agar warga menyadari pentingnya peranan RT/RW setempat, misalnya jika terjadi kecelakaan, petugas dapat dengan mudah menemukan tempat tinggal warga tersebut.

Sistem registrasi di Desa Dramaga tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar, tetapi memiliki sedikit hambatan. Walaupun RT dan RW mencatat seluruh kejadian demografi tiap bulannya dan selalu diserahkan ke kantor Desa Dramaga, dalam penerapannya kesadaran beberapa penduduk untuk melaporkan setiap kejadian demografi (kelahiran, kematian, dan migrasi) yang menimpa dirinya maupun keluarganya masih rendah, sehingga masih ada penduduk yang tidak terdata.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Perkembangan Penduduk Desa Dramaga

Data yang diperoleh dari Kelurahan Dramaga adalah data kependudukan berdasarkan jumlah kelahiran, jumlah kemtian, jumlah migrasi, golongan umur dengan jenis kelamin agama, mata pencaharian, dan masalah kesehatan di Kelurahan Dramaga pada tahun 1998, 2008, dan 2010. Kelengkapan data-data tersebut telah kami lampirkan pada akhir bab makalah ini.

Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa pada tahun 1998, 2008, dan 2010 pertumbuhan penduduk relatif tetap atau kurang signifikan karena jumlah kelahiran hampir sama dengan jumlah kematian dimana dalam perkembangan penduduk tersebut juga terjadi penurunan angka jumlah penduduk usia non produktif. Berikut tabel perhitungan data kependudukan di Desa Dramaga, Kabupaten Bogor :

Tabel 7. Perhitungan Data Kependudukan di Desa Dramaga, Kabupaten Bogor

No. Perhitungan Data Kependudukan per Tahun 1998 2000 2008 2010
1. Reit Kematian Kasar (CDR) 6 4 1 4
2. Reit Kelahiran Kasar (CBR) 7 6 1 3
3. Proporsi Wanita 49 50 48 48
4. Persentase Wanita 49% 50% 48% 48%
5. Rasio Anak Wanita (RAW) - - - 40
6. Rasio Beban Tanggungan (RBT) 72 72 64 60
7. Umur Median (Um) 23,16 23,35 28,44 26,18

Keterangan :  Tanda (-) menjelaskan ketidaktersediaan data berdasarkan jenis kelamin pergolongan    umur pada tahun   1998, 2000, dan 2008 (untuk perhitungan data terdapat dilampiran)

Berdasarkan tabel diatas, menunjukan bahwa perhitungan data kependudukan Desa Dramaga, terjadi penurunan Reit Kematian Kasar (CDR) dari 6 orang yang meninggal dalam 1000 penduduk pada tahun 1998 menjadi 1 orang yang meninggal dalam 1000 penduduk pada tahun 2008. Akan tetapi, pada tahun 2010 mengalami peningkatan yang tidak begitu berarti, yaitu 4 orang yang meninggal dalam 1000 penduduk. Sedangkan, pada Reit Kelahiran Kasar (CBR) terjadi hal yang serupa dengan Reit Kematian Kasar (CDR), yang mengalami penurunan dari 7 orang yang lahir dalam 1000 penduduk pada tahun 1998 menjadi 1 orang yang lahir dalam 1000 penduduk pada tahun 2008. Akan tetapi, pada tahun 2010 mengalami peningkatan yang tidak begitu berarti pula, yaitu 3 orang yang lahir dalam 100 penduduk.

Pada perhitungan proporsi wanita terjadi fluktuasi dari 49 wanita dalam 100 penduduk pada tahun 1998, kemudian mengalami peningkatan menjadi 50 orang wanita dalam 100 penduduk pada tahun 2000. Namun, pada tahun 2008 mengalami penurunan kembali menjadi 48 wanita dalam 100 penduduk, dan pada tahun 2010, angka proporsi wanita tetap pada angka 48 wanita dalam 100 penduduk. Sementara apabila dihitung berdasarkan persentase wanita, terjadi hal yang serupa pula dengan proporsi wanita di Desa Dramaga, yaitu mengalami fluktuasi dari 49 % dalam 100% penduduk pada tahun 1998, kemudian mengalami peningkatan menjadi 50% wanita dalam 100% penduduk pada tahun 200. Namun, pada tahun 2008 mengalami penurunan kembali menjadi 48% wanita dalam 100% penduduk, dan pada tahun 2010, angka persentase wanita tetap pada angka 48% wanita dalam 100% penduduk.

Selanjutnya untuk perhitungan Rasio Anak Wanita (RAW), kami tidak dapat menghitung perkembanganya dari tahun 1998-2008 dikarenakan tidak tersedianya data dari desa yang bersangkutan. Akan tetapi, pada data tahun 2010 data yang tersedia sudah lengkap sehingga berdasarkan perhitungan diperoleh RAW sebesar 40, yang berarti dalam setiap 100 orang wanita usia reproduksi (subur) terdapat 40 orang anak. Kemudian, untuk perhitungan Rasio Beban Tanggungan (RBT), pada tahun 1998 dan tahun 2000 perkembanganya stabil. Hal ini ditunjukkan dalam 100 orang penduduk usia produktif menanggung 72 orang penduduk non-produktif,  lalu berdasarkan perhitungan dapat dilihat terjadinya penurunan dari tahun 2000-2010, yaitu 72 orang penduduk non-produktif yang ditanggung oleh 100 orang usia produktif menjadi 60 orang penduduk non-produktif yang ditanggung oleh 100 orang usia produktif.

Apabila ingin melihat struktur umur di Desa Dramaga, maka diperlukan perhitungan umur median. Dari data yang diperoleh, dapat diketahui umur median pada tahun 1998 sebesar 23,16 tahun sedangkan pada tahun 2000 sebesar 23,35 tahun. Kemudian, pada tahun 2008 didapatkan umur median sebesar 28,44 tahun sementara pada tahun 2010 sebesar 26,18. Semua umur median yang didapatkan dari tahun tahun 1998 sampai tahun 2010 termasuk ke dalam struktur umur median sedang atau intermediate karena berkisar antara 23-28 tahun.

Sedangkan untuk perhitungan Reit Perkembangan Penduduk Desa Dramaga, kami mengambil sample pada tahun 2008-2010. Hasil yang kami peroleh dari perhitungan tersebut yaitu sebesar -1,08% per tahun (perhitungannya tertera dilampiran). Biasanya reit jarang bernilai negatif akan tetapi dari hasil perhitungan tersebut kami dapat kami menyimpulkan bahwa perkembangan penduduk Desa Dramaga mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari tingginya tingkat kematian dari pada tingkat kelahiran pada tahun 2010 dan perpindahan penduduk terutama pada migrasi (penduduk yang pergi) dari tahun 1998 sampai 2010 yang terdapat dilampiran yang mengakibatkan menurunnya jumlah penduduk.

Reit Perkembangan Penduduk tidak lepas dari gerak penduduk, seperti sirkulasi. Sirkulasi merupakan gerak berselang antara tempat tinggal dan tempat tujuan baik untuk bekerja, maupun untuk lain-lain tujuan seperti sekolah (Rusli,1995).[19] Hal ini terlihat dengan adanya penduduk Desa Dramaga yang hanya sementara tinggal di desa tersebut, dikarenakan tujuan menetapnya adalah bersekolah, khususnya kuliah di IPB sehingga mendukung Reit Perkembangan Penduduknya negatif.

3.2 Persebaran dan Kepadatan Penduduk Desa Dramaga

Berdasarkan data yang telah kami peroleh maka persebaran penduduk Kelurahan Dramaga  pada tahun, 2008, 2009, dan 2010 berdasarkan jenis kelamin adalah: mengingat data yang tersedia untuk memenuhi perhitungan hanya data tahun 2010 maka RJK yang kami hitung hanya pada tahun tersebut.

Tabel 8. Rasio Jenis Kelamin Menurut Golongan Umur Penduduk Desa Dramaga,  Tahun 2010

Gol Umur Rasio Jenis Kelamin (RJK)
0-5 142,42
6-10 83,49
11-15 121,75
16-20 127,71
21-25 110,69
26-30 108,66
31-35 76,22
36-40 103,06
41-45 104,02
46-50 75,42
51-55 150
56-60 101,75
61-65 101,56
66+ 191,52
Total 142,42

Sumber: Diolah dari lampiran data laporan penduduk  Desa

Dramaga Bulan April 2010

Berdasarkan hasil perhitungan data di atas maka rasio jenis kelamin keseluruhan menunjukkan bahwa pada tahun 2010 jumlah laki-laki lebih besar dibandingkan jumlah perempuan di Desa Dramaga. Hal ini ditunjukan dari setiap 100 orang perempuan terdapat 142,42 orang laki-laki, dengan RJK terbesar terdapat pada golongan umur 66+, yaitu sebesar 191,52. Sedangkan RJK yang terkecil terdapat pada golongan umur 46-50, yaitu sebesar 75,42. Selain RJK, persebaran dan kepadatan penduduk di Desa Dramaga dapat dilihat dari perpindahan penduduk (migrasi), berikut ini tabel yang menunjukkan migrasi yang terjadi di desa tersebut.

Tabel 9. Migrasi Penduduk di Desa Dramaga dari 1998-2010

No. Tahun Datang Pergi (Mutasi) Jumlah
Laki-laki Wanita Laki-laki Wanita
1. 1998 19 14 10 5 48
2. 2000 6 5 55 56 122
3. 2008 0 0 5 3 8
4. 2010 - - 46 35 81
Jumlah 25 19 116 99 259

Keterangan : Tanda (-) menjelaskan ketidaktersediaan data.

Analisis migrasi penduduk Desa Dramaga pada tahun 1998 dapat dilihat pada data yang tersedia (terlampir) bahwa jumlah migran yang datang berjumlah 33 orang sementara migran keluar berjumlah 15 orang. Jumlah migran yang pindah ke desa Dramaga mengalami penurunan pada tahun 2000 menjadi hanya 11 orang sementara migran yang keluar dari desa Dramaga meningkat tajam menjadi 111 orang. Sementara itu pada tahun 2008 tidak ada migran yang datang ke desa Dramaga dan jumlah migran keluar sebanyak 8 orang. Lalu pada tahun 2010 jumlah migran yang datang ke desa tersebut tidak tersedia datanya sedangkan jumlah migran yang ke luar berjumlah 81 orang, sehingga kami dapat menyimpulkan bahwa migrasi di Desa Dramaga lebih didomonasi dengan penduduk yang mengalami mutasi (pergi).

3.3 Struktur Penduduk Desa Dramaga

Berdasarkan data yang kami peroleh, kami dapat menyajikan piramida penduduk Kelurahan Dramaga pada tahun 2010 sebagai berikut:

Tabel 10. Penduduk Desa Dramaga Menurut Jenis Kelamin per Golongan Umur

Gol. Umur Laki-laki Perempuan Jumlah F Kumulatif

%♂

%♀

0-5 799 561 1360 1360 7,17 5,04
6-10 511 642 1123 2483 4,59 5,76
11-15 817 671 1488 3971 7,33 6,02
16-20 871 682 1553 5524 7,82 6,12
21-25 652 589 1241 6765 5,85 5,29
26-30 690 635 1325 8090 6,20 5,70
31-35 452 593 1045 9135 4,06 5,32
36-40 336 326 662 9797 3,02 2,93
41-45 207 199 406 10203 1,86 1,79
46-50 132 175 307 10510 1,18 1,57
51-55 129 86 215 10725 1,16 0,77
56-60 58 57 115 10840 0,52 0,51
61-65 65 64 129 10969 0,58 0,57
66-70 113 59 172 11141 1,01 0,53
Jumlah 5832 5309 11141 11141 52,35 47,92

Sumber : Diolah dari lampiran data laporan Kantor Kepala Desa Dramaga Bulan April 2010

Dari data tersebut, dapat digambarkan struktur piramida penduduk, sebagai berikut:

Gambar 1. Struktur Piramida Penduduk Desa Dramaga Tahun 2010

Data yang kami peroleh tentang persebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin hanya pada tahun 2010 sehingga kami menganalisis persebaran penduduk tanpa membandingkan dengan tahun- tahun yang sebelumnya. Jika dilihat dari struktur piramida diatas maka dapat kita lihat bahwa penduduk Desa Dramaga pada tahun 2010 termasuk tipe 5, yaitu piramida penduduk yang menunjukkan perkembangan baru penduduk dengan jatuhnya reit kelahiran dengan cepat di samping itu mengalami reit kematian yang rendah Akan tetapi reit kematiannya lebih tinggi dari pada reit kelahiran. Selain faktor kelahiran dan kematian, stuktur penduduk dipengaruhi pula oleh gerak penduduk, seperti migrasi (imigrasi dan emigrasi). Menurut data yang kami dapatkan, penduduk Desa Dramaga  lebih bnyak yang keluar (emigrasi) dibanding yang masuk (imigrasi) sehingga reit perkembangan penduduknya negatif.

3.4 Analisis Bonus Demografi di Desa Dramaga

Seperti kita ketahui bonus demografi adalah keuntungan ekonomis yang disebabkan penurunan proporsi penduduk muda yang mengurangi  besarnya biaya investasi untuk pemenuhan kebutuhannya, sehingga sumberdaya dapat dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Berdasarkan data yang diperoleh dari desa Dramaga, Kec Dramaga, Kab. Bogor pada tahun 1998, 2000, 2008, dan 2010. Rasio ketergantungan desa Dramaga pada tahun 1998 dan 2000 relatif sama yaitu 72 per 100 penduduk usia kerja, selanjutnya rasio ketergantungan desa Dramaga mengalami penurunan dari 64 per 100 penduduk usia kerja pada tahun 2008 menjadi 60 per 100 ditahun 2010.

Penurunan rasio ketergantungan terkait erat dengan bonus demografi. Seperti pendapat Sri Moertiningsih Adioetomo dalam tulisannya ‘Bonus Demografi Menjelaskan Hubungan Antara Pertumbuhan Penduduk dengan Pertumbuhan Penduduk dengan Pertumbuhan Ekonomi’ bahwa bonus demografi di Indonesia akan terjadi pada tahun 2020-2030. Pada saat itu rasio ketergantungan berada pada titik terendah yaitu 44 per 100 penduduk. Ini sangat ideal untuk melakukan pembangunan manusia dimana pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan penduduk muda sangat minimal. Tetapi harus didukung dengan kesempatan kerja yang banyak bagi para usia produktif dan mempunyai modal untuk diinvestasikan serta modal manusia untuk memanfaatkan ‘windows of opportunity’.

Terkait dengan pendapat diatas desa Dramaga apabila dilihat dari rasio ketergantungan desa tersebut yang relatif masih tinggi pada tahun 2010 ini nampaknya belum ada istilah yang dinamakan “bonus demografi”, namun secara keseluruhan apabila dilihat dari penurunan rasio ketergantungan dari tahun ke tahun, sepertinya bonus demografi akan tercapai pada tahun-tahun selanjutnya dengan syarat rasio ketergantungan desa ini relatif terus menurun.

BAB IV
PENUTUP

  1. a. Kesimpulan

Pertumbuhan penduduk Desa Dramaga dari tahun 1998 hingga 2010 relatif tetap atau kurang signifikan karena jumlah kelahiran hampir sama dengan jumlah kematian dimana dalam perkembangan penduduk tersebut juga terjadi penurunan angka jumlah penduduk usia non produktif. Pada tahun 2010 jumlah laki-laki lebih besar dibandingkan jumlah perempuan di Desa Dramaga. Sementara, jumlah migran yang keluar lebih banyak dibandingkan migran yang datang ke desa Dramaga selama kurun waktu 1998-2010. Pada struktur piramida yang didapat, Desa Dramaga tergolong tipe jenis 5 yang berarti reit kelahiran menurun dengan cepat dan reit kematian pun rendah. Walaupun memang kematin lebih tinggi sedikit dengan reit kelahiran. Bonus demografi untuk desa Dramaga akan tercapai pada tahun-tahun selanjutnya dengan syarat rasio ketergantungan desa ini relatif terus menurun.

  1. b. Saran

Dalam analisis ilmu kependudukan diperlukan data yang lengkap dan akurat sehingga dapat dilakukan perhitungan secara terperinci. Oleh karena itu peran aparat desa setempat dalam melakukan pendataan terhadap penduduknya sangat penting. Data yang sudah ada juga sebaiknya dijaga untuk keperluan penelitian yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

Adioetomo, Moertiningsih Sri. 2005. Bonus Demografi Menjelaskan Hubungan Antara Pertumbuhan Penduduk dengan Pertumbuhan Ekonomi. Dalam: Warta Demografi Tahun 25 No.2.

Anonim. 2010. Artikel2 (terhubung berkala) http://file.upi.edu/Direktori/B%20 % 20 FPIPS / JUR. % 20 PEND. % 20 GEOGRAFI /196006151988031%20-%20JUPRI/artikel2.pdf (diakses Sabtu 29 Mei 2010).

David Lucas, Peter McDonald, Elspeth Young, Christabel Young. 1984. Pengantar kependudukan. Nin Bakdi Sumanto dan Riningsih Saladi, penerjemah. Yogykarta: Gajah Mada University Pres Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan.

Irma. 2010. Pengertian Penduduk ( terhubung berkala) http://irma5.blogdetik.com /files/2009/10/pkn11.pdf (diakses Sabtu 29 Mei 2010).

Pasay, Ahmad Haidy N. 1980. Migrasi Masuk Ke Jakarta dalam Analisa Kependudukan Berdasarkan Data Sensus Penduduk 1090. Jakarta: Biro Pusat Statistik.

Rusli, Said. 1983. Kepadatan Penduduk dan Peledakannya. Jakarta: Balai Pustaka.

Rusli, Said. 1995. Pengantar Ilmu Kependudukan. Jakarta: LP3ES.

Sensus Penduduk. 2010. Data Sensus Penduduk (terhubung berkala) http://sensuspenduduk.blogspot.com/ (diakses Sabtu 29 Mei 2010).


[1] Irma, Pengertian Penduduk, http://irma5.blogdetik.com/files/2009/10/pkn11.pdf, (diakses Sabtu 29 Mei 2010).

[2] Said Rusli, Pengantar Ilmu Kependudukan (Jakarta:LP3ES,1995), hal.2.

[3] Ibid., hal.4.

[4] Ibid., hal.2.

[5] Sri Moertiningsih Adioetomo, Bonus Demografi Menjelaskan Hubungan Antara Pertumbuhan Penduduk dengan Pertumbuhan Ekonomi (Jakarta:Warta Demografi, 2005).

[6] Anonim, Artikel2, http://file.upi.edu/Direktori/B%20 % 20 FPIPS / JUR. % 20 PEND. % 20 GEOGRAFI /196006151988031%20-%20JUPRI/artikel2.pdf, (diakses Sabtu 29 Mei 2010).

[7] Ibid.,  hal.3.

[8] Said Rusli, op.cit., hal.35.

[9] Ibid.

[10] Sensus Penduduk. Data Sensus Penduduk, http://sensuspenduduk.blogspot.com/ (diakses Sabtu 29 Mei 2010).

[11] David Lucas, Peter McDonald, Elspeth Young, Christabel Young, Pengantar kependudukan (Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan: Gajah Mada University Pres,. 1984), Diterjemahkan oleh Nin Bakdi Sumanto dan Riningsih Saladi.

[12] Said Rusli, op.cit., hal.88.

[13] David Lucas, Peter McDonald, Elspeth Young, Christabel Young, yang diterjemahkan oleh Nin Bakdi Sumanto dan Riningsih Saladi, loc.cit.

[14] Said Rusli, loc.cit.

[15] Said Rusli, Kepadatan Penduduk dan Peledakannya. (Jakarta: Balai Pustaka, 1983), hal.36-37.

[16] Said Rusli, Pengantar Ilmu Kependudukan, op.cit., hal. 56.

[17] N Haidy Ahmad Pasay, Migrasi Masuk Ke Jakarta dalam Analisa Kependudukan Berdasarkan Data Sensus Penduduk 1090, (Jakarta: Biro Pusat Statistik,1980), hal.100-101.

[18] Said Rusli, op.cit., hal.88.

[19] Ibid., hal.137

Comments are closed.